Sungguh!! terlalu

Selasa, 16 Juli 2013 0 comments


Beberapa hari lagi saatnya murid masuk tahun ajaran baru. Persiapan kelas dengan segala atributnya mulai ditata  sebelum hari Senin tiba. Sayapun ketiban mempersiapkan segala atributnya, bukan sebagai guru melainkan sebagai orangtua dari dua anak, murid dan calon murid TK. Bukan main sibuknya saya,mulai dari menjahit seragam baru Aziz yang kebesaran, menyiapkan bekal untuk hari pertama, tak kalah penting mempersiapkan mental.  Jauh hari sudah saya doktrin kepada anak saya yang nomor dua untuk bersemangat sekolah mencari ilmu, teman, agar menjadi anak yang pintar dan Sholeh. Amin.
Kepada kakak, tak lupa ku wejang agar menuntun sang adik. Hari pertama terbilang lancar, meski satu jam saya sedikit molor menjemput hingga keduanya uring-uringan memprotesku.
Bukan disengaja saya lakukan “molor”, namun masih dijam kerja, saya harus antri ijin dan tanda tangan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Ijin 20 menit untuk menjemput dan mengantar ke tempat penitipan yang lainnya lagi. Fiiuuuh….kuseka keringatku, pukul 11.30, saat panas-panasnya terik matahari bersinar dikota Jogja ditambah saya masih berkejibu dengan sang adik yang merengek tak mau ditinggal. Bagaimanalah ini, waktu yang diberikan tinggal 5 menit. Alhamdulillah lancar, telat 10 menit datang ke tempat kerja, kubiarkan wajahku ini menjelma bak tembok  yang tahan apapun terutama rasa malu.
Rutinitas baru. Kali ini saya putar otak cari ide yang bisa bikin si aktif betah main di sekitar rumah, bersepeda keliling kampung sudah 3 kali saya lakukan, lemes. Bukan 2 anak saya yang masih terlihar bugar, saya yang ngos-ngosan menyimbangi semangat mereka. Setelah istirahat dari bersepeda, mereka saya ajak ke masjid dekat kos, ramai. Setelah permisi. Mendaftar kepada pak Ustadz, saya diperkenankan meninggalkan mereka.
Tentu saja, saya tak seperti yang lainnya meninggalkan anak mereka disana karena mereka sudah mandiri, saya harus ikut serta sekolah bersama dua balita yang lainnya, duduk bersila membaca do’a-do’a harian dan A Ba Ta. Beberapa pasang mata memperhatikan tingkah saya diantara kerumunan anak-anak. Lagi-lagi saya pasang tampang tembok…
Malamnya, saya sudah KO…bukan tidur dengan ketenangan, Aziz membangunkan saya dengan rengekan “Umi gak boleh merem”, hekk. Dengan kuyu kukumpulkan nyawaku satu persatu, dalam sandaran tembok kamar aku memperhatikan mereka bermain yang diselingi tangis lalu tawa lalu teriakan lalu rebutan mainan, lalu…lalu…, lalu terlalu banyak lalunya aku tak ingat lagi …lalu gelap.
Z……..Z……..Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
“Umiii!!!....minta tolong dibuatkan susu”. Kontan kubuka mataku seperti ada aliran listrik ribuan watt yang tiba-tiba menyentak tubuhku, aku sudah terduduk kembali, rasa kantukku seketika lenyap. Dengan sebotol susu untuk masing-masing mereka, tak butuh waktu 5 menit dan tak butuh dongeng pengantar tidur mereka telah terlelap dalam tidur menyisakanku sekarang yang masih dalam keadaan segar dengan kantuk yang tak lagi mampir. Mengamati satu persatu anak-anakku.
 Diujung malam yang masih tersisa. Hanya do’a dan do’a yang selalu ku usahakan ku panjatkan untuk mereka yang ku cinta.
Do’a seorang ibu yang masih harus belajar menjadi ibu yang baik.
Ramadhan_Jogja. 00.57 WIB




Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. My Note's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger